Rabu, 02 Maret 2016

Gaun-Gaun Kesunyian



Gaun-Gaun Kesunyian adalah warna cinta dan perjalanan cinta yang isnpiratif! Patah hati bukanlah warna yang gelap gulita! Ia hanyalah bagian dari kisah yang menyempurnakan sebuah warna cinta seperti gaun gaun yang menyodorkan warna-warninya. Gaun Gaun Kesunyian membuat kamu berkeliling menelusuri kota-kota indah dari Senggigi hingga Kofu di Jepang! mayokO aikO meninggalkan banyak jejak cinta dalam buku ini!

Rendezvous in Koyomizu



Kawasan Gion Corner yang biasanya ramai oleh pelancong yang ingin menikmati musik Koto atau juga tarian klasik Gagaku dan Kyogen, kini tampak lengang.

"Re, aku ingin kamu selalu mengingat tempat rendezvous kita." 

Suara Akiko kembali memecah kesunyian. Ya. Akiko mengungatkan kembali pada sebuah tempat di mana untuk pertama kalinya aku mengenal Akiko.

"Kuil Koyomizu?" sahutku spontan.

Rendezvouz di Koyomizu, adalah kumpulan cerpen karya mayokO aikO yang sangat romantis. 13 cerpen pilihan yang terdapat dalam buku ini adalah jejak seorang mayokO aikO sebagai penulis remaja era tahun 90-an. Meski sibuk dengan pekerjaannya di dunia iklan, menulis buat mayokO aikO adalah kegiatan yang tidak bisa ia tinggalkan.

Question & Answer : Kompetisi Menulis Universal Nikko 2016



Dear Nikko Ganks
Mungkin selama ini kamu bertanya-tanya tentang serba-serbi Kompetisi Menulis Universal Nikko 2016  yang bertema Young adult Locality Novel ya. Nah, berikut Nikko munculkan pertanyaan apa sih yang sering banget Nikko Ganks tanyain.


1. Q     : Apakah naskah novel untuk kompetisi ini boleh ditulis duet?
    A     : Tidak boleh, novel ditulis perseorangan.
2. Q     : Apakah WNI yang berdomisili di luar negeri boleh ikut?
    A     : Boleh, semua WNI di seluruh dunia boleh ikut kompetisi ini.
3. Q     : Apakah boleh mengirim 2 (dua) naskah?
    A     : Tidak boleh, sudah tercantum dalam persyaratan lomba, peserta hanya boleh mengirim
              SATU naskah saja.
4. Q     : Apa peserta kompetisi ini dibatasi usia?
    A     : Tidak, semua WNI boleh ikut, tidak terbatas usia, suku, agama, pendidikan, dan profesi
5. Q     : Apa yang dimaksud dengan unsur lokalitas? Apakah ide cerita, dialog, setting, atau    tokoh?
    A     : Semuanya, namun tetap bergenre young adult
6. Q     : Dimana saya bisa mendapatkan buku ’19 Jurus Mabuk Penulis Sukstres?’
A   : Buku 19 JMPS bisa didapat di seluruh toko buku di Indonesia, atau bisa langsung dibeli secara online ke Penerbit Universal Nikko via e-mail nikko.ganks@gmail.com
7. Q     : Apa maksud dari ‘Hadiah termasuk kontrak beli putus naskah penulis’?
   A  : Maksudnya adalah apabila menang dan naskah diterbitkan oleh Universal Nikko, maka    hadiah  tersebut sudah termasuk honor pembelian naskah, sehingga penulis nantinya
   tidak menerima royalty lagi.
8. Q     : Apakah naskah pemenang favorit akan diterbitkan Universal Nikko?
    A     : Tidak, hanya naskah pemenang 1 & 2 saja yang akan diterbitkan.
9. Q     : Bagaimana untuk naskah yang tidak menang?
    A     : Naskah yang tidak menang hak ciptanya tetap ada pada penulis dan sepenuhnya milik 
   penulis.
10. Q   : Dimana pengumuman pemenang akan diumumkan?
      A   : Pengumuman pemenang akan diumumkan di website dan semua saccount mesia sosial 
   milik
 Universal Nikko 


Nah, gimana Nikko Ganks? Masih ada yang mau kamu tanyakan? Sampaikan saja ke inbox\fanpage Universal Nikko atau mention twitter Nikko di @universalnikko ya.    

Teknik Packing Angklung dalam Bagasi

Sumber Google


Membawa Angklung dalam jumlah besar di bagasi pesawat 

Mengurus bagasi pesawat memang sangat terlihat simple, namun akan menjadi pekerjaan rumit bila kita membawa bagasi yang rentan pecah (fragile) dalam jumlah besar. 

Benda-benda yang mudah retak seperti gelas, piring, alat musik seperti biola, gitar dan alat musik angklung menjadi benda-benda yang harus ditangani secara khusus saat packing. Kenapa? Benda-benda ini riskan pecah saat sudah masuk ke salam bagasi karena tentu di dalam bagasi akan terjadi saling tindih saat menyusun atau juga pergeseran saat penerbangan berlangsung. 

Beberapa tips packing dari angklung yang aman dari Djarot Sukotjo praktisi moverer dan ekpedisi Indonesia. 

1. Pilahkan angklung sesuai ukuran yang nyaris sepadan. Dalam ukuran panjang dan lebar. 

2. Siapkan wrap busa ukuran tebal minimal 3 cm. Busa ini bisa didapatkan di toko meuble di sepanjang Jalan Pahlawan Revolusi Klender. 

3. Tiap angklung harus diwrapping dengan busa tersebut. Ditutup keseluruhan dengan tanpa menyisakan rongga. Karena setiap rongga memberi peluang angklung bergeser dan patah. 

4. Sesudah masing-masing angklung dibungkus dengan busa tebal, susunlah angklung-angklung secara rapi lalu masukkan ke dalam kardus dengan ketebalan tertentu. Makin tebal kardus makin baik. 

5. Pastikan sebelum memasukkan angklung ke dalam kardus seluruh sisi dalam kardus terlapisi busa untuk menahan pergeseran angklung-angklung tersebut sekalgus menahan bila benturan dari luar tetap aman. 

6. Saat angklung-angklung tersebut masuk ke dalam kardus, celah kosong yang ada dalam kardus harus disisipi busa-busa sehingga tidak terjadi pergerakan yang bisa mengakibatkan angklung tersebut patah. 

7. Tandai kardus-kardus tersebut dengan kata "Awas mudah pecah" tulisan itu akan membantu petugas bandara memperlakukan lebih hati-hati setidaknya sampai masuk ke dalam perut pesawat. 

8. Teknik packing benda yang mudah pecah adalah meminimalis beban berat dalam arti bila barang-barang yang dipacking itu banyak akan lebih baik bila dijadikan dalam beberapa kardus dan tidak dipaksakan dalam kardus. Hali ini untuk menghindari benda tersebut beresiko pecah juga bermanfaat untuk split berat bagasi sesuai aturan penerbangan. 

Dalam perbincangan via tilpun dengan petugas penerbangan, resiko bagasi pecah sangat mungkin terjadi karena sesaknya ruang bagasi. 

Benda-benda yang beresiko pecah dianjurkan dibawa ke kabin namun sebelumnya harus dipackaging dengan baik dan benar oleh masing-masing penumpang. 

Bila terpaksa harus di kabin, benda-benda yang berpotensi melukai penumpang harus dipackaging dengan rapih dan tertutup bila tidak ingin benda tersebut disita petugas bandara. Jadi.... Siap belajar packing? +++

Salam Mayoko Aiko 
Praktisi Iklan
Kepala Sekolah Cendol (Cerita Nulis Diskusi Online)

8 Hal yang Perlu Diwaspadai Saat Travelling

Sumber Google


Travelling memang menyenangkan. Apalagi bila travelling itu bertujuan ke Eropa. Banyak destinasi berbagai negara yang bisa dikunjungi secara bebas dengan berbekal visa Schengen (tidak berlaku untuk U.K). 

Namun, tidak ada salahnya pepatah lama kita renungkan. "Lain lubuk lain belalang." Tentu saja, tiap wilayah tiap bangsa apa lagi itu bila menyangkut ke negara lain, tentu adat, budaya, aturan tata cara bernasyarakat, bahasa, makanan bahkan sampai tata tertib di tempat umum memiliki aturan sendiri. 

Lalu bagaimana bekal selain bekal fisik dan mental, apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan oleh traveller saat baru pertama kali berkunjung ke Eropa? Dimana segalanya sangat berbeda dari kehidupan kita sehari-hari di Indonesia? 

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diwaspadai dan diperhatian traveller berdasarkan pengalaman penulis. 

1. Teliti additional name pada Paspor, Visa dan Tiket Pesawat 

Hal paling sering terlupakan adalah menyoal nama yang tertera dalam paspor, visa dan tiket pesawat. Kasus ini rata-rata terjadi pada paspor yang ada additional name di halaman ketiga. Rata-rata booking tiket memakai nama family. Sementara saat lintas batas petugas-petugas imigrasi sering fokus pada nama di halaman pertama. Jadi bukakan paspor pada halaman ketiga bila petugas mempertanyakan perbedaan nama dan tiket atau juga pada visa. 

2. Waspadai Suhu Extreme 

Suhu udara menjadi persoalan tersendiri bagi para traveler. Untuk menghindari salah kostum sering-seringlah membuka aplikasi semacam Weather untuk memonitor perkembangan suhu negara yang akan dikunjungi. 

3. Hindari Berkomunikasi dengan orang asing 

Dalam kondisi bepergian dan jauh dari negara sendiri, menemukan orang asing yang ramah tentulah sangat menyenangkan. Namun waspada itu perlu. Kelengahan, terlalu percaya sama orang asing yang sangat ramah dan baru kita kenal bisa saja itu menimbulkan kewaspadaan menjadi berkurang. Maka hal terbaik hindari perbincangan yang tidak perlu pada orang asing yang tiba-tiba ramah. 

4. Jangan membawa barang branded tapi palsu 

Banyak negara Eropa yang sangat ketat melindungi Hak Karya Intelektual. Produk-produk bermerk yang di Indonesia sangat "berlimpah" karena dijual dari toko-toko mewah hingga kaki lima, bila itu yakin palsu jangan dibawa. Bahkan bilapun itu orisinal usahakan membawa sertifikat siapa tau barang yang dibeli terlihat asli ternyata palsu alias aspal. Beberapa bandara mungkin langsung menyitanya namun bilapun lolos saat berkunjung ke butik yang bersangkutan dapat dipastikan barang palsu itu akan digunting oleh security. 

5. Jangan bepergian sendirian 

Sehebat apapun kalian, jangan pernah bepergian sendirian di tempat-tempat yang masih asing. Apalagi untuk traveller yang baru pertama kali berkunjung. Berkelompok jauh lebih safe dibanding melakukan perjalanan sendirian. 

6. Waspadai Copet 

Sekali lagi menyoal copet. Copet adalah profesi kelas dunia yang mendunia. Kelemahan traveller Indonesia adalah kepercayaan yang berlebih kepada bule. Bahkan di bandara teknik mencopetnya sangat canggih. Rata-rata pencopet ini membawa koper yang sangat besar. Biasanya koper besar inilah yang akan dipakai untuk mengambil koper kalian saat mereka berpura-pura minta difotoin ataupun mengajak selfie. 

7. Melupakan obat-obatan 

Hal paling sering terlupakan adalah obat-obatan. Obat demam, masuk angin, sakit kepala, diare wajib dibawa. Ingat, kalian memasuki ke sebuah wilayah yang 100 persen kondisi suhu bahkan makanan sangat berbeda dari yang biasa ditemui di Indonesia. Biasanya kondisi ini bisa mempengaruhi daya tahan tubuh dan kesehatan. 

8. Hindari pergi ke wilayah-wilayah "merah" 

Tiap kota yang dikunjungi traveller pasti ada spot-spot yang lebih baik dihindari. Spot-spot dengan tingkat kriminilitas tinggi. Baca dan gali dari berbagai sumber yang tersedia melimpah di internet, wilayah-wilayah "the bronx" di kota yang dikunjungi. 

Itulah 8 hal kecil yang perlu diwaspadai traveller namun sering dilupakan. Travelling pasti sesuatu yang menyenangkan. Namun, kewaspadaan tentu tetap kuta jaga. Enjoy your trip! +++


(Penulis adalah Managing Director, Executive Creative Director, Pemerhati Remaja, Penulis Buku, Pendiri Sekolah Menulis Gratis OnLine dan Penggiat Bagi-Bagi Buku Gratis.)

Gita Swara Nassa goes to Europe



Be your self with the music 

Sore itu, Minggu, 6 September 2015, Aula UHAMKA dipenuhi ribuan penonton yang duduk rapi dan khidmat. Seluruh mata penonton tertuju ke arah panggung, dimana 38 anggota Choir, Gita Swara Nassa, SMP-SMA Nasional 1 Bekasi unjuk kebolehan tidak hanya menyanyi, mereka juga pandai menari bahkan memainkan musik tradisional, angklung dengan sangat piawai. 

Konser bertajuk "Thank You for The Music." ini merupakan rangkaiain dari Gita Swara Nassa goes to Europe atas undangan PPI Utrecht Belanda. The 3rd Journey to The Musical Moment Concert Gita Swara Nassa SMP-SMA Nasional I Bekasi ini dikonduktori Mohammad Charles, dengan diiringi dua pianist muda Wina Adhiana dan Ferdian Ismanto. 

Mohammad Charles merupakan pengajar bidang studi musik di Lembaga Pendidikan Nasional I, Bekasi. Dari lelaki lajang lulusan seni musik Universitas Negeri Jakarta inilah Gita Swara Nassa lahir dan dibina sejak 1994 hingga sekarang. 

Gita Swara Nassa yang lebih dikenal dengan sebutan GSN ini dihuni berbagai anggota lintas sekolah dari siswa SD, SMP hingga SMA. 

Tentu berbagai prestasi yang mumpuni diraih remaja-remaja ini di level dunia. Mulai dari sebut saja seperti Gold Diploma Children Choir 1st Vietnam International Choir Festival and Competition 2011 hingga prestasi Gold Diploma Youth Choir 1st Xinghai International Choir Festival and Competition 2012 Guangzhou dan banyak lagi prestasi kelas dunia lainnya. 

Belum lagi prestasi-prestasi nasional yang diraih remaja-remaja yang yang didapat di dalam negeri. 

Goes to Europe 

Kunjungan perdana GSN di Eropa ini akan dimulai dari Belanda dalam acara Utrecht Indonesian Day 2015 atas undangan PPI Utrecht. Dari Belanda GSN akan melawat ke Paris untuk misi kebudayaan UNESCO, dan juga akan bernyanyi dan bermain angklung di Balai Kota Achen di Jerman. 

Kembali ke Performance GSN di Aula Uhamka. GSN Choir and Angklung tampil sangat apik. 11 lagu di sesi pertama dinyanyikan dengan sempurna. Diawali dengan The Sound of Music buah karya Richard Rogers, dengan Duo Solois Salma Sabhira, Rieska Ramadhani, membuat pertunjukan terasa berkelas. Penonton dibuat terbuai oleh suara sopran mereka. 

Penonton dibuat bergoyang saat remaja-remaja itu membawakan lagu ngebeat Geef Mij Maar Nasi Goreng karya Wieteke Van Dort yang diaransemen dengan apik pleh Sang Conductor Mohammad Charles. Tak lupa remaja-remaja GSN membawakan Medley lagu daerah Indonesia yang membuat sebagian penonton bernyanyi riang. 

Bergembira dengan Menyanyi dan Bermain Musik 

Remaja, yang hidup di kota-kota besar seperi Jakarta, sangat riskan terperangkap pada sisi negatif Metropolitan. Serbuan budaya barat, kehidupan kota besar yang cenderung mengagungkan hedonisme, belum kenakalan remaja lainnya mulai dari tawuran, trek-trekkan bahkan miras dan narkoba, Gita Swara Nassa ibarat sebuah Oase yang menyejukkan. 

Saat begitu banyak remaja-remaja kota kehilangan arah, mereka menemukan jati diri dalam bentuk kegiatan yang positif di Gita Swara Nassa. Mereka menyanyi dengan riang, menari layaknya remaja yang bebas dari tekanan dan memainkan musik dengan gembira. "Aku ikut GSN sejak SD. Menurut aku ini kegiatan yang sangat positif. Aku bisa mendapatkan kepercayaan diri, bisa membangun team work dan kalo aku dan teman-teman mendapatkan Gold Medal buat aku itu bonus. Yang terpenting ini positf buat aku dan teman-teman. Be my self!" ujar Mila Karina Ario, salah satu member GSN Kelas XII SMA Nasional 1 dengan mata berbinar. Kualitas vokal Mila yang sempurna membuat penonton terhibur saat menyanyikan Mojang Priangan dengan tariannya yang lincah dan gemulai. 

Total mereka menyanyikan 11 lagu untuk Choir dan 8 lagu untuk angklung. Seharusnya konser ini ditutup dengan lagu melegenda milik Freddie Mercury (Queen), We are the Champion! 

Namun apa daya penonton tak juga beranjak pulang. "More...More...More!" Teriak penonton di barisan belakang. 

Mau tak mau sang Conductor kembali lagi mendaulat anak-anaknya untuk kembali bernyanyi dan bermain angklung. Maka lagu yang sangat heroik "Gebyar-Gebyar" milik almarhum Gombloh dibawakan dengan penuh semangat dengan iringan angklung yang kompak, bertenaha namun tetap ritmis. 

Akhirnya konser Gita Swara Nassa yang beranggotakan, Astrid Putri, Firlana Ferina, Abel Andjani, Kinarya Hana, Rieska Ramadhani, Mila Karina, Rindiani Carissa Dwi, Salma Shabira, Nafidzah Intishar, Althaf Zhafirah, Dhyani Paramita, Firli Purnama, Lukluk Marjani, Jasmine Reggina, Kireyna Hoshi, Sekar Riandani merangkap keyboard, Sylvian, Fauzan Hikmah, Gilrandy Farhan, Fikri Lanjar, Nadhiva Putri, Nadine Mutiara, Raisha Thahira, Yasmin Rania, Anandia Danita, Radhidhia Thariq Zuhair. Sheyla Namirah, Syafa Putrinya, Raffisya Athaya, Ananda Ryanizar, Fadel Karim, M. Fadhil, Wisnu Pahrul, Fardhanian Rezky, Gabrina Rizcexkievnikova, Dzulfikar Rizqisyah, M. Abul A'la dan Zaky Faris pun berakhir. Pertunjukan dalam 2 jam dengan 20 lagu itu sukses menghibur penonton yang rela mengeluarkan kocek hingga Rp.75,000 untuk membeli tiket. 

Kita berbangga karena memiliki remaja-remaja yang bergembira dalam kegiatan paduan suara. Mereka menyanyi dengan senyuman. Mereka membuat hidup lebih baik dan positif. Mereka bernyanyi tidak hanya untuk kegembiraan namun juga sebagai benteng dari kegiatan-kegiatan negatif yang merusak remaja di kota-kota besar seperti Jakarta. 

Maka tidak salah di akhir tulisan ini penulis akan menyampaikan quotes yang sangat fenomenal. 

“Without music, life would be a mistake.” ― Friedrich Nietzsche _ 

Musik tidak hanya soal hobby atau kesenangan, tetapi musik bisa melupakan dan menjauhkan dari kegiatan kontra peoduktif. 

Maka, mari kita bernyanyi karya fenomenal dari group legendaris ABBA! 

"Thank you for the music the songs i'm singing 

Thanks for all the joy their bringing 

Who can live without it 

I ask in all honesty, what would life be 

Without a song or a dance what are we 

So i said thank you for the music, for giving it to me 

What a great song! 

(Penulis adalah Managing Director, 
Executive Creative Director, 
Pemerhati Remaja, Penulis Buku, 
Pendiri Sekolah Menulis Gratis OnLine 
dan Penggiat Bagi-Bagi Buku Gratis.)

Ngumpulke Balung Pisah (Reuni Akbar SMPN1, Manyaran)



Balung dalam pemahaman eksak berarti tulang atau kerangka. namun dalam pemahaman sosial kekerabatan, balung memiliki makna lebih luas dan filosofis. Balung bisa diartikan secara luas menjadi kekerabatan, atau juga pertemanan atau juga hubungan yang begitu kuat sampai rasa itu menjadi bagian dari isi tulang belulang. Begitulah kata 'balung" sangat sakti untuk menggambarkan semua hal itu. 

Dari pertautan pertemanan di facebook antar mantan Alumni SMP Negeri 1, Manyaran, Wonogiri yang secara intens berkomunikasi secara maya, tiba-tiba terpikir bagaimana bila komunikasi secara maya itu terwujud dalam pertemuan besar secara fisik. Yang tadinya kasat mata, menjadi nampak nyata. Bisa menyapa, bisa berjabatan tangan, bisa curhat dan bisa memperhatikan sebagian rambut alumni yang mungkin saja sudah memiliki dua warna. 

Adalah seorang junior (sebutan untuk adik kelas) yang memiliki ide mengumpulkan Alumni SMP N 1 Manyaran, Wonogiri dari Angkatan Pertama (1983) hingga angkatan 90an. 

Reuni Akbar yang dikemas dengan semangat paling menyentuh "Ngumpulke Balung Pisah" yang digagas oleh salah satu alumni bernama Setianto Joko, ternyata cukup ampuh menjadi magnet buat mengumpulkan Alumni SMP Negeri 1, Manyaran, Wonogiri yang tersebar di seluruh dunia. 

Sesuatu yang tadi lahir dari pemikiran maya bersambut ke lintas generasi. Bahkan salah seorang penulis nasional alumni SMP Negeri 1 Manyaran, Otran Soenarto, dibuat bergegas untuk ikut menggelorakan semangat reuni akbar ini. 

Sesungguhnya apa yang mendasari begitu kuatnya kekerabatan suatu komunitas? Banyak hal terjadi yang membuat semangat gotong royong, saling toleransi di Indonesia makin semu, makin pucat dan lama-lama luntur dari bumi Indonesia tercinta. Feodalisme, individualisme saat ini menjadi fenomena yang terus bermunculan, tidak hanya di kota besar tetapi juga merampah hingga ke pedesaan. 

Jangan heran bila sekarang, banyak orang yang lebih suka berkunjung ke mall daripada saling berkunjung ke keluarga. boleh dibilang dalam 1 tahun orang saling mengunjungi terjadi satu kali saat lebaran. Tetapi, setiap orang mungkin saja akan berkunjung ke mall empat kali dalam seminggu. 

Apakah kekerabatan di Indonesia mulai luntur? Yang jelas saat ini kita nyaris tiap hari disuguhi tawuran antar kampung. tawuran sekolah dan disharmonisasi. 

"Ngumpulke Balung Pisah" adalah sebuah gerakan sosial yang mungkin saja itu bersifat lokal karena kecilnya lingkup peserta. Tetapi pesannya tentu tidak sekecil itu. Pertemanan yang nyaris hilang bisa timbul dengan acara-acara kekerabatan seperti ini. 

"Semangat pertemuan yang digagas sangat dalam mengingat kita dulu pernah sama-sama satu kandang." Jiman Sastrowijoyo yang sekarang sukses menjadi dealer forex menyampaikan pemikirannya. 

Sangat simple. Satu kandang pastilah memiliki makna yang lebih luas dalam pemaknaan sebagai bangsa Indonesia yang komplek. 

Sementara seorang alumni lain, Parkist Senopati dan Tetucho Pringgondani menyampaikan harapannya bahwa reuni ini bisa menjadi penyemangat persaudaraan khusunya warga Manyaran, Wonogiri. 

Kecamatan Manyaran, merupakan salah satu kecamatan Kabupaten Wonogiri. Wilayah ini terletak di sebelah barat kabupaten Wonogiri dan menjadi wilayah perbatasan dengan DI Yogyakarta. Manyaran juga menjadi salah satu pemangku budaya sekaligus pusat dunia tatah sungging dan yang pasti dari daerah ini dalang-dalang nasional dilahirkan. 

Wilayah yang memiliki kekayaan alam berupa kayu jati dan batu-batu alam yang indah ini juga memberi andil pada pasokan kebutuhan kacang mede dunia. 

Sukasno Kazuo yang kali ini didapuk sebagai wakil ketua Reuni Akbar "Ngumpulke Balung Pisah" SMP N 1 Manyaran, Wonogiri juga berharap siapapun yang pernah lahir dan menginjak bumi Manyaran, untuk ikut berkumpul pasca lebaran nanti, di Aula SMP Negeri 1, Manyaran. "Ngumpul bareng ben iso ngguyu bareng." 

'Ngumpulke Balung Pisah' adalah pesan sosial, sebab dari situ kita bisa kembali membenihkan nilai-nilai kekerabatan dan gotong royong yang mulai pudar dari bumi pertiwi. 

mayokO aikO 
Praktisi Periklanan
Kepala Sekolah Kelas Cendol

Menunggu Pak Beye Lewat



Jalur Transyogi Cibubur, merupakan salah satu jalur tersibuk di wilayah Cibubur. Jalur yang melayani lintas Tol Jagorawi-Cianjur itu menjadi sentra ekonomi yang tumbuh begitu cepat. Ruko-ruko dibangun sepanjang lintasan yang juga menjadi jalur Pak Beye pulang ke Cikeas setelah bertugas di Istana. 

Transyogi Cibubur menjadi sebuah kota mandiri. Berbagai penunjang kebutuhan berbaris di sini. Mulai dari rumah sakit, bank, restoran hingga bengkel-bengkel berderet sepanjang jalanan ini. Komplek-komplek perumahan elitpun menjamur di wilayah ini. Tak heran bila Jalur Transyogi Cibubur menjadi denyut nadi Pemda Bogor dan Bekasi. Ribuan mobil bergerak di jalur ini sepanjang hari. Jadi inget obrolan dengan Mbah Suro, pedagang mie ayam yang mangkal di Puri Gading, tempat tinggalku, katanya kalo suatu wilayah pingin maju jurusnya gampang. Bangun saja jalan raya. Begitu kata Mbah Suro. Tetapi, memang teori Mbah Suro ada betulnya. Di Transyogi Cibubur, bahkan tidak hanya pengusaha yang memiliki ruko yang bisa mendapatkan rizki. Bahkan di setiap puteran di Transyogi Cibubur merupakan lumbung uang buat pak polpek, alias polisi gopek (dulu polisi cepek, sekarang minta naik gaji menjadi polisi gopek, ga mau kalah sama buruh) dalam mencari uang. 

Kalau kita telusuri dari exit tol Cibubur hingga Kota Wisata ada sekitar 11 titik putaran yang kalau Pak Beye ga lagi lewat selalu dijaga sama Polisi Gopek ini. Seperti sore tadi saat Pak Beye lewat, saya berkesempatan ngobrol dengan Mas Polpek di putaran depan Rawon Setan, salah satu putaran yang super rame itu salah satu putaran menuju Hankam Raya dari arah Cileungsi dan sekitarnya. 

"Wah, penghasilan berkurang nih," saya membuka percakapan. Kali ini puteran itu milik Pak Polisi berseragam sebab orang nomer satu mau lewat. 

"Ya, begitu deh, Mas. Kalo Pak Beye lewat ya minggir dulu deh." 

"Paling kan hanya dua jam." Sahutku. 

"Dua jam itu ya lumayan mas. Kalo dua jam bisa ngelolosin 40 mobil kan rata-rata dapat 40 ribu." 

"Empat puluh ribu?" 

"Yah, kurang lebih..." 

Bila dirata-rata mereka berjaga dari jam 6.00 pagi hingga jam 21.00 malam, maka 15 jam bisnis putaran jalan ini berputar argonya,  tiap titik menghasilkan sekitar Rp.300.000,-, (Rp.40.000 x 7 + Rp. 20.000,-) bila dikalikan 11 titik putaran sekitar Rp.3.300.000,-/ hari. 

"Jadi penghasilanmu sebulan,  9 juta ya?" tanyaku sambil berhitung. 

"Ya kan dibagi-bagi juga, Mas. Rame-rame. Shift-shiftan juga." sahut Mas Polpek sambil menuju 'pos penjagaan' karena rombongan Pak Beye dengan sirinenya sudah berlalu. 

Ternyata, jalanan itu sumber uang yang berlimpah. Tak heran bila banyak orang ingin menguasai jalanan. Meski pengguna jalanan harus rela ngalah, sebab Polisi Gopek ini selalu 'membela yang bayar'. Pantes saja mereka jarang berdemo ya. Ternyata secara global penghasilan mereka jauh di atas UMR. Mau coba ganti profesi Masbro? Jadi Polisi Gopek? Jangan, ah! Sebab ini hanya lanturan saya dengan Pak Polpek sambil menunggu Pak Beye lewat.+++ 

Cinta Di Antara Dua Pria



Oleh Putra Gara, Reni Teratai, mayokO aikO

BAB I 
Antara Rana dan Tera 

Gerimis mulai turun mendekati pukul lima sore. Lewat jendela ruangan kerjanya Teratai bisa melihat titik-titik lembut itu turun berlomba. Ia melirik ponselnya yang membeku di sisi laptopnya. Tak ada dering manis milik sebuah nama di ponsel itu yang ditunggunya sejak jam makan siang. Dering telepon atau sms sekalipun! Enggan sebenarnya, tapi akhirnya ia segera meraih ponsel, mencari Honey di phone book-nya. Keengganan yang coba disingkirkan bertambah menjadi kesal yang sangat. Mailbox!! Teratai membuang pandangnya. Menelusuri titik-titik yang semakin deras, seiring dengan wajahnya yang mengeruh.Mana teleponmu, Rana? Keluh itu didenguskannya dalam hati. Bahkan menjelang pulang kantor kamu belum menghubungiku juga. Ini hujan, kamu tak khawatir aku berhujan-hujan pulang kantor?! Belakangan kau tak lagi peduli padaku! Dengan gelisah ia menutup teleponnya. Bergegas merapikan meja dengan kelu di dadanya. Sesayat perih mulai bermain. Mereka-reka dengan gamang. Ke manakah rutinitas manis yang dulu mereka punya. Dering telepon, sms manis, perhatian-perhatian kecil yang luar biasa...Terlalu berlebihankah ia? Mereka bertengkar semalam. Pertengkaran yang belakangan kerap terjadi, meski dimulai dari hal-hal kecil.

“Jangan seperti anak kecil yang selalu mengharap banyak waktu luang untukmu.” Dia amat mengerti dunia laki-laki itu sesungguhnya. Dua puluh empat jam terkadang terasa kurang. Laki-laki tersayang yang telah menguras mimpinya sepanjang dua tahun itu benar-benar berkelahi dengan waktu. Tapi di awal-awal dulu bukahkah laki-laki itu selalu menyempatkan sedikit saja untuk sekedar menelepon atau menjemputnya? Juga makan malam yang romantis di akhir pekan. Jika dulu sempat, kenapa belakangan tak bisa lagi? Terlalu berlebihankah ia? Lift itu membawanya turun bersama hatinya yang kering. Di pintu lobby, lagi-lagi dia membuka ponselnya. Berharap sebuah pesan masuk. Sekedar, ‘Hati-hati di jalan. Aku sayang kamu.’ Rutinitas manis dari Rana yang romantis. Rana romantis? Tidak juga. Laki-laki itu terlalu diam. Ia bahkan cenderung apatis. Tak banyak bicara. Misterius dan sulit dimengerti. Tapi beberapa bulan hubungan mereka berjalan, Rana mulai menunjukan perubahan. Tiba-tiba mengiriminya bunga. Tiba-tiba mengirim sms ‘aku rindu kamu’. Tiba-tiba memeluknya dengan hangat.