Our social:

Rabu, 02 Maret 2016

Cinta Di Antara Dua Pria



Oleh Putra Gara, Reni Teratai, mayokO aikO

BAB I 
Antara Rana dan Tera 

Gerimis mulai turun mendekati pukul lima sore. Lewat jendela ruangan kerjanya Teratai bisa melihat titik-titik lembut itu turun berlomba. Ia melirik ponselnya yang membeku di sisi laptopnya. Tak ada dering manis milik sebuah nama di ponsel itu yang ditunggunya sejak jam makan siang. Dering telepon atau sms sekalipun! Enggan sebenarnya, tapi akhirnya ia segera meraih ponsel, mencari Honey di phone book-nya. Keengganan yang coba disingkirkan bertambah menjadi kesal yang sangat. Mailbox!! Teratai membuang pandangnya. Menelusuri titik-titik yang semakin deras, seiring dengan wajahnya yang mengeruh.Mana teleponmu, Rana? Keluh itu didenguskannya dalam hati. Bahkan menjelang pulang kantor kamu belum menghubungiku juga. Ini hujan, kamu tak khawatir aku berhujan-hujan pulang kantor?! Belakangan kau tak lagi peduli padaku! Dengan gelisah ia menutup teleponnya. Bergegas merapikan meja dengan kelu di dadanya. Sesayat perih mulai bermain. Mereka-reka dengan gamang. Ke manakah rutinitas manis yang dulu mereka punya. Dering telepon, sms manis, perhatian-perhatian kecil yang luar biasa...Terlalu berlebihankah ia? Mereka bertengkar semalam. Pertengkaran yang belakangan kerap terjadi, meski dimulai dari hal-hal kecil.

“Jangan seperti anak kecil yang selalu mengharap banyak waktu luang untukmu.” Dia amat mengerti dunia laki-laki itu sesungguhnya. Dua puluh empat jam terkadang terasa kurang. Laki-laki tersayang yang telah menguras mimpinya sepanjang dua tahun itu benar-benar berkelahi dengan waktu. Tapi di awal-awal dulu bukahkah laki-laki itu selalu menyempatkan sedikit saja untuk sekedar menelepon atau menjemputnya? Juga makan malam yang romantis di akhir pekan. Jika dulu sempat, kenapa belakangan tak bisa lagi? Terlalu berlebihankah ia? Lift itu membawanya turun bersama hatinya yang kering. Di pintu lobby, lagi-lagi dia membuka ponselnya. Berharap sebuah pesan masuk. Sekedar, ‘Hati-hati di jalan. Aku sayang kamu.’ Rutinitas manis dari Rana yang romantis. Rana romantis? Tidak juga. Laki-laki itu terlalu diam. Ia bahkan cenderung apatis. Tak banyak bicara. Misterius dan sulit dimengerti. Tapi beberapa bulan hubungan mereka berjalan, Rana mulai menunjukan perubahan. Tiba-tiba mengiriminya bunga. Tiba-tiba mengirim sms ‘aku rindu kamu’. Tiba-tiba memeluknya dengan hangat. 

0 komentar:

Posting Komentar