Our social:

Rabu, 02 Maret 2016

Gadis Itu Bernama Kirei Na

Sumber Google




Oleh mayokO aikO 


Heran tiba-tiba hujan salju mengguyur kota mungil ini. Padahal, siang tadi aku masih bisa menikmati keagungan Fujiyama dari Kofu, sebuah kota kecil di sebelah barat Tokyo. Lerengnya diselimuti salju, bak selimut sutera putih membentuk kerucut raksasa di tengah-tengah langit luas. Puncaknya menjulang seakan mampu menyentuh kaki langit yang tadi siang cukup cerah. 



Jam dinding di kamarku masih menunjuk angka sembilan. Masih terlalu sore untuk beranjak tidur. Namun rasa dingin yang menusuk tulang-tulangku telah memaksaku tetap tinggal di kamar. Biasanya kalau salju tidak turun sesore ini, aku menemani paman dan bibi bermain remi di beranda depan. Atau menikmati makanan khas jawa di restoran “Malioboro”, yang letaknya beberapa blok dari apartemen pamanku. 



“Benar-benar salju sialan!” runtukku kesal. Untuk mengurangi rasa dingin, kutarik ruisliting jaket sampai ke leher lalu kunyalakan Marlboro yang tinggal sebatang. 



Tumpukkan salju membuat atap-atap rumah berubah putih semua. Bunga-bunga sakura yang tadi siang begitu semarak, kini terperangkap dalam salju. Angin bertiup kencang membuat hujan salju membentuk tirai miring yang jatuh tak henti-hentinya. 



Aku baru mau menutup jendela kamar ketika mataku tertarik pada seorang gadis berjaket tebal sedang duduk di taman apartemen. Persis di bawah payung merah bertangkai panjang , tempat aku dan paman biasa bermain remi. 



Naodokah,itu? Hmm.., rasanya seingatku anak gadis pamanku itu tadi sore baru saja pergi ke Yokohama, menjenguk neneknya. Lagi pula mana mungkin hujan salju begini Naodo duduk di taman. Lalu siapakah gadis itu? 


Rasa ingin tahuku memaksaku turun dan menemuinya. 

Ruang keluarga sudah sepi. Aneh. Biasanya jam-jam segini paman dan bibi masih asyik ngobrol sambil menonton tivi. 

Dengan tergesa, aku menuju kepintu depan. Begitu tergesa aku membuka pintu sehingga suara deritan menarik perhatiannya. Mukanya yang pucat pasi berpaling ke arahku. Untuk sesaat kami saling berpandangan. Seperti terhipnotis perlahan-lahan aku berjalan ke arahnya. Wajah gadis itu benar-benar pucat. Bibirnya biru, gemetar menahan dingin. 

“Dozo, ohairi nasa.” Aku mengajaknya masuk. Dia mengangguk menyambut uluran tanganku. Aku terkejut ketika menggenggam tangannya. Telapak tangan gadis itu dingin sekali. Sedingin salju yang turun semakin deras. 

“Watashi no namae wa Aiko des.” Sesampai di dalam rumah, aku mempersilakannya duduk sambil kuperkenalkan diri. Tapi gadis itu hanya tersenyum datar tanpa menyebutkan namanya. 

“Ocha to budooshu nomimas ka.” Lagi-lagi gadis itu hanya menggelengkan kepala ketika kutawari minum teh atau anggur. Aduh, jangan-jangan gadis ini bisu, pikirku.

 Tapi, aku tetap membuatkan secangkir teh panas untuknya. Dengan secangkir teh itu berharap dapat sedikit mengurangi rasa dingin. 

Untuk beberapa saat aku ikut membisu. Gadis ini sebenarnya cantik sekali. Matanya jernih dan tak terlalu sipit seperti kebanyakan gadis Jepang yang pernah kukenal. Tapi, tatapan matanya kosong. Hidung bangirnya serasi sekali dengan bibir mungilnya. Kalau saja bibir itu tidak pucat pasi… 

“Dari mana, malam-malam begini?” Aku berusaha memecah kesunyian yang tiba-tiba kurasakan begitu mencekam. Kali ini aku benar-benar berharap dia mau membuka mulutnya.

“Kuil Hokyon,” jawab gadis itu lirih. Tapi bagiku itu lebih baik daripada hanya sebuah gelengan kepala.

“Malam-malam begini dan hujan salju seperti ini?” tanyaku heran. “Bukankah kuil Hokyon itu di Kyoto? Dan jaraknya dari sini lumayan jauh, kan?”

Gadis itu mengangguk sepeti menyetujui pendapatku. 

“Apa yang kau cari di kuil itu?” Aku berusaha menatap wajahnya. Dia menatapku sebentar. Kemudian kepalanya tertunduk lagi.

 “Aku tidak mencari apa-apa,” jawabnya pelan.

 “Lho?” 

“Aku berjalan ke mana saja aku suka. Ke mana kakiku melangkah, ke sanalah aku mengikutinya,” lanjutnya sembari memasukkan tangan ke kantong jaketnya yang tebal. 

“Traveler?” 

“Apa itu, traveller?” gadis itu mengernyitkan keningnya tidak mengerti arti kata yang baru saja kusebutkan. 

“Yaaa…, semacam itulah. Berjalan tanpa tujuan. Yang penting menuruti kata hati. Ke mana kaki melangkah ke situlah tujuannya,” aku mengartikan kata asing itu, dengan mengulang kalimatnya. Kulihat gadis itu tersenyum. Kepalanya mengangguk-angguk, seperti menyetujui pendapatku tentang keberadaan dirinya.

 “Apakah kamu sering kekota ini?” tiba-tiba gadis itu bertanya. 

“Seperti kamu juga sih. Kalau aku kepingin ke sini ya ke sini. Kalau lagi nggak kepingin , ya nggak ke sini,” jawabku sekenanya. “Lagian Jakarta-Tokyo, kan cukup jauh. Belum lagi nyambungnya ke kota ini. Kalau kelewat sering, bisa bokek aku.” 

Gadis itu tersenyum. Aku ikut tersenyum. Di sana, di dalam matanya, aku dapat melihat binar-binar cerah. 

“Kamu, dari Jakarta?” Dia memandangku tajam.” Aku senang dengan kotamu. Kota yang mungil . Orang-orangnya ramah dan….,” kalimatnya tak berlanjut karena aku keburu memotongnya. 

“Kamu, pernah ke Jakarta?” 

“Ya, malah aku sempat mengunjungi Tugu Mpnas!”

 “Tugu Monas, mungkin,” sahutku, membenarkan kalimatnya. 

“Ya Tugu Monas. Ternyata tugu itu tak kalah cantiknya dengan Kuil Hokyon. Bahkan Kuil Jingu di kota Khasima yang kesohor itu pun belum bisa menandingi keanggunan Tugu Monas.”

Ada sedikit kebanggaan ketika kudengar sendiri, gadis secantik dia mengagumi bangunan yang menjadi Khas ibu kota negriku itu. 

Aku merasakan suasana akrab. Gadis itu ternyata enak diajak ngobrol.

“Kamu pasti tidak percaya kalau aku hafal beberapa masakan khas sana?” Gadis itu tersenyum sebentar lalu memandangku. “Ada soto betawi, gudeg Yogya yang mansyur, terus masakan Padang yang terlalu pedas buat lidah saya.” Gadis itu mengerjapkan matanya. Mungkin ada sesuatu yang sangat berkesan baginya waktu di Jakarta dulu.

Tiba-tiba aku ingin mengajaknya ke restoran “Malioboro” tempat aku dan paman biasa melepaskan kerinduan tentang masakan Indonesia. 

Di luar hujan salju semakin membesar. Aku mengenakan jaket lalu menggandeng tangan gadis itu setengah berlari agar cepat sampai. Cuaca dingin benar-benar menyiksa. 

***

Restoran Malioboro sudah sepi. Tak ada seorang pengunjung pun yang nampak. Hanya ada seorang ‘kyuuji’ yang melayani. Biasanya restoran ini selalu sarat pengunjung. Terutama orang-orang Asia Tenggara. 

Kami memilih tempat di pojok ruangan, dekat perapian. Hanya diterangi lampu warna lavender. 

“Kamu mau pesan apa?” 

Gadis itu hanya membisu. Tapi aku ingat makanan kesukaan yang tadi diceritakan di apartemen pamanku. Tak berapa lama hidangan yang aku pesan datang. Aku menyantap soto betawi yang masih panas dengan lahap. Lumayan untuk mengusir rasa dingin. Tapi, keasyikanku terhenti ketika kusadari gadis itu hanya memandangi makanan yang berada di depannya. 

“Lho, kok cuma dilihatin? Katanya paling suka masakan khas Indonesia?” Aku heran sembari tetap lahap menyantap makananku. “Ayo, doooong…!” Aku menghentikan makanku. Gadis itu cuma membisu. Tak menyentuh sedikit pun makanannya. 

“Aku tidak lapar. Aku capek sekali.” Gadis itu nampak murung. Ia merogoh saku jaketnya. Mengambil secarik kertas lusuh dan memberikannya padaku. ”Ini alamatku.” 

Tanpa kubaca terlebih dahulu kumasukkan kertas itu ke kantong celana jeansku. “Hari sudah malam dan salju belum berhenti. Lebih baik kamu tidur di apartemen pamanku,” saranku. 

Gadis itu menatapku. Lama sekali. Kemudian bibirnya yang biru bergerak. “Kau baik sekali, Aiko,” ujarnya lirih. 

“Yaah, bukankah sesama manusia harus saling berbuat baik?” 

Gadis itu hanya tersenyum. Datar. Bahkan kalau aku bisa merasakan senyum itu terlalu pahit. 

***

Aku bangun kesiangan. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, aku bergegas turun. Gadis itu sudah bangun belum, ya? Sepulang dari restoran Malioboro, dia kupersilakan tidur di kamar khusus untuk tamu. 

Aku menghampiri pintu kamar dan mengetuknya perlahan sekali. Sampai lima kali aku mengetuk tak juga ada sahutan dari dalam. Jangan-jangan gadis itu sudah bangun dan jalan-jalan di taman atau mungkin membantu bibi membuat kue di dapur. Aku penasaran setelah ketukkan ketujuh tetap tak ada sahutan. Kuputuskan untuk membuka pintu. Benar, kamar itu telah kosong. Kamar itu sudah rapi. Bahkan sprei kasur begitu licin. Ah, gadis yang rajin. 

Aku berlari keruang keluarga di mana paman sedang asyik membaca koran sambil menikmati teh panas. 

“Pagi, Paman!” 

Paman menurunkan surat kabarnya. “Tumben, bangunnya kesiangan,” ujar pamanku. Aku hanya tersenyum. 

“Paman, apakah gadis yang tidur di kamar tamu, sudah bangun?”

Paman mengernyitkan keningnya. “Gadis?’ dia bertanya heran. “Tak ada siapa-siapa. Pintu depan pun masih terkunci, jadi mustahil ada orang ke luar tanpa sepengetahuan Paman.” 

“Gadis itu semalam saya suruh tidur di kamar itu, aku kasihan melihat dia kedinginan di luar.” Aku meyakinkan pamanku tentang keberadaan gadis itu. 

“Aiko…, Aiko. Kamu ini mimpi barangkali,” jawab Paman sambil melanjutkan membaca surat kabarnya lagi. 

Tanpa sepatah kata, kutinggalkan pamanku dan bergegas ke ruangan tamu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Secangkir teh. Ya, bukankah semalam aku menyeduhkan teh buatnya walau tidak diminum? 

Tapi… tapi nyatanya cangkir itu tidak ada di meja tamu! Ah,mungkin pagi-pagi bibi telah membereskannya. Aku langsung berlari ke dapur. 

“Pagi, Bi!” bibiku yang lagi asyik memasak mie-instan tersenyum. “Eem… ,emmm , apakah Bibi tadi pagi mengambil cangkir di ruang tamu?” Aku menatap Bibi Rinika itu. Aku berharap bibilah yang memberesinya. 

“Cangkir?” tanya bibi. Beliau mengerutkan kening. “Bibi belum ke ruangan tamu.” 

Aku tercenung mendengar jawaban Bibi. Ya, Tuhan… Apa yang terjadi padaku semalam. Jangan-jangan…, pikiran jelekku mulai bekerja. 

“Bi, semalam hujan salju, ya?” Aku ingat karena hujan itulah aku bertemu dengan gadis itu. 

“Haa…? Hujan salju? Mana mungkin bulan-bulan begini hujan salju?” 

Aku semakin bingung. Jawaban Bibi benar-benar membuatku heran. Buru-buru aku ke ruang keluarga menemui Paman. 

“Paman, semalam hujan salju ya?” 

“Aiko…, Aiko. Cobalah ke luar sendiri. Ada nggak salju di sana. Sebenarnya kamu ini kenapa, sih?” Kali ini Paman bertambah heran, mungkin aku dianggap ngoceh tidak karuan. 

Secepatnya aku berlari ke halaman. Benar kata Paman dan Bibi. Cuaca sangat cerah. Langit biru tanpa setitik awan. Sakura-sakura itu tetap mekar tanpa sedikit pun sisa tempelan salju. Jalanan kering. Selokan-selokan juga kering. 

Biasanya kalau malamnya hujan salju, pagi hari selokan-srelokan ini penuh air. Karena salju yang membeku semalam, akan mencair. 

Aneh! 

Kali ini aku benar-benar bingung. 

Tapi, aku belum menyerah. Bukankah semalam aku mengajak gadis itu ke restoran Malioboro? 

Tanpa pikir panjang lagi aku segera berlari ke sana. Lagi-lagi aku semakin bingung ketika seorang ‘kyuuji’ memberitahu bahwa kemarin malam adalah hari Kamis dan restoran tutup, karena kebanyakan pelayannya penganut Shinto pergi ke kuil. Bagaimana mungkin ada pengunjung? 

Aku pulang dengan langkah gontai dan seribu pertanyaan memenuhi ruangan otakku. 

“Bagaimana, Aiko? Hujan saljukah semalam?” Pamanmenatapku sambil tersenyum. “Mungkin, kau hanya bermimpi?” lanjut Paman. 

Aku hampirs saja menyetujui pendapat Paman kalau aku tidak ingat sesuatu. Secarik kertas. Ya, bukankah gadis itu semalam memberikan alamat padaku? Dengan ragu-ragu kucari secarik kertas itu di dalam celana jeansku. Aha! Aku mendapatkannya. 8603 Higashi,Kofu. Terukir jelas di atas kertas lusuh. Masih satu kota! 

Seperti orang kesurupan aku berlari ke garasi, mengambil Hyundai Paman. Tak kupedulikan lagi Paman berteriak keheranan memanggilku. Hanya satu tujuan. Alamat gadis itu. 

***

Rumah beratap tinggi itu sepi. Hanya tanaman sebagai pagarnya. Liar dan berkesan tak pernah dirawat. Benarkah alamat ini? Dengan tangan agak gemetar kuketuk pintu itu. 

Baru dua ketukan, dari dalam kudengar langkah seseorang mendekati pintu. Seorang laki-laki tua, bermata cekung menatapku tajam. 

“Ohayoo gozaimas.” Aku mengucapkan selamat pagi sembari membungkukkan badan. 

“Doko kararemashita ka?” tanya orangtua itu tentang siapa aku. 

“Watashi wa jakaruta kara kimashita,” jawabku. Bahwa aku berasal dari Jakarta. Laki-laki tua itu termenung sejenak. Dengan bibir bergetar dia mempersilakan aku masuk. “Dozoo ohairi nasa!” ujarnya. 

“Arigatoo.” Aku masuk seraya mengucapkan terima kasih. 

Aku duduk di atas kursi tua. Mataku berkeliling menelusuri ruangan keluarga. Penuh debu dan kotor. Buku-buku kusam, berceceran di mana-mana. Sarang-sarang serangga teranyam di setiap sudut ruangan. Benarkah alamat ini yang diberikan oleh gadis misterius semalam? Aku hampir beranjak mohon pamit kalau saja mataku tak tertarik pada sebuah photo seorang gadis yang tergantung di dinding. Tepat di atas sebuah pintu kamar. Bukankah gadis itu yang bersamaku semalam? Ya, gadis itulah yang aku cari. 

“Ano onna wadare de’ka?” Aku berpaling pada lelaki tua yang kini duduk membisu di depanku. Lelaki tua itu berpaling pada photo yang aku tunjuk. Ada senyum getir di bibirnya. 

“Cantik, bukan?” ujarnya bangga. 

“Ya, cantik sekali,” jawabku cepat. Di photo itu, mata gadis itu berbinar-binar cerah, bibirnya tak sepucat seperti yang kulihat malam. 

“Anak gadisku,” suaranya lirih. 

“Boleh, aku menemuinya?” Aku sudah tak sabar lagi ingin menemui gadis misterius itu. 

Orangtua itu diam tak bergeming. Ada gurat sedih di wajahnya.

“Dia telah tiada,” jawabnya dengan bibir bergetar. 

Aku tersentak mendengarnya. Bagaimana mungkin? Sedangkan semalam aku masih…. 

“Dua tahun yang lalu dia melakukan seppuku.” 

Aku terhenyak mendengar kalimat itu. Tenggorokanku terasa kering . Seppuku adalah adat kuno, yang merupakan pilihan terakhir bagi orang-orang di sini yang beranggapan mati dengan seppuku itu jauh lebih baik dan terpuji daripada hidup menanggung malu. 

“Taa… pi, bagaimana mungkin, Pak? Aku semalam masih bertemu dengannya. Bahkan aku mengajaknya membeli makanan kesukaannya.” Aku benar-benar dibuat bingung. “Bahkan dia bercerita kepadaku, katanya baru saja dari Kuil Hokyon,” lanjutku. Kutelan ludahku sendiri. 

“Nak!” orangtua itu memandangku lama sekali. “Bapak sudah tua. Walaupun Bapak bangga dengan kepergiannya, tapi… bagaimana juga Bapak tetap merasa kehilangan. Dia gadis yang baik. Gadis polos yang mengira bahwa semua orang di dunia ini mempunyai itikat baik. Sehingga kepolosan itulah yang mencelakakannya. Setelah lama menjalin hubungan yang berasal dari Jakarta juga, anak gadis itu diajak oleh pemuda itu mengunjungi tanah airnya. Katanya mau dikenalkan dengan kedua orangtuanya. Tentu saja anakku senang. Tapi…,” Orangtua itu menghela napas sebentar. Mungkin hatinya sangat terpukul. “Tapi, kepercayaan yang Bapak berikan dan kepolosan anak gadisku disalahgunakan oleh pemuda itu. Setelah memperdayai anak gadisku, pemuda itu meninggalkannya.” Orangtua itu diam sesaat. Matanya menerawang jauh. Ada dua buliran bening bergulir di pipinya yang keriput. “Sepulang dari sana anakku berubah drastis. Sering melamun, jadi pendiam. Malamnya, sebelum dia melakukan seppuku, dia menceritakan semua padaku. Dia juga bercerita pada Bapak, bahwa pagi harinya ingin mengunjungi Kuil Hokyon. Tempat dulu sering mereka kunjungi berdua. Tapi, Nak…,” Orangtua itu memandangiku lekat-lekat. “Anakku tak pernah mengunjungi Kuil itu. Karena di kamar itu…,” Orangtua itu menunjuk sebuah kamar anaknya. “Malam itu juga anakku mengakhiri hidupnya!” 

Oh, Tuhan! Tiba-tiba aku geram sekali kepada pemuda yang mencelakakan gadis itu. Pemuda biadab. Kalau aku tahu siapa pemuda itu, pasti sudah kutonjok hidungnya. Dia tidak menyadari karena tingkahnya, seorang gadis polos menjadi korbannya. Belum lagi orangtuanya yang kini menunduk pasrah di depanku. 

Sebenarnya aku masih kepingin bicara banyak dengan orangtua itu tentang anak gadisnya. Tapi itu mengingatkan kembali saat-saat indah yang dilalui bersama anaknya dulu. 

Aku pamit pulang sebelumnya aku meminta maaf telah membuatnya bersedih. 

Dengan perasaan tak menentu, kujalankan mobilku pelan-pelan. Aku memang tidak menanyakan nama gadis itu pada orangtua tadi, sebab di bawah photo gadis itu sederet huruf kanji telah mengukir namanya. Gadis itu bernama Kirei Na. Kirei Na Fujimura! 

Di atas jembatan, mobil kuhentikan. Sungai yang mengalir di bawahnya berkelok-kelok dan aku tahu sungai itu berhulu di lereng Fujiyama. Karena waktu pertama kali ke kota ini, aku pernah menelusurinya bersama Paman. 

Ah, Kirei Na? Di manakah kau sekarang? Di sungai itukah? Di lereng Fujiyama itukah? Atau bahkan kau berada di dekatku? Di mana pun kau sekarang berada, aku hanya bisa berdoa semoga kau hidup damai di tempatmu yang baru. Tempat peristirahatn abadi. 

Sudut kota Kofu yang sepi, awal January 1994
Untuk Dian Permata, Diana Sari, Herawaty, Aini, Putih bersama Cinta... 

Majalah Gadis, 2-11 Maret 1994. 

0 komentar:

Posting Komentar