Our social:

Rabu, 02 Maret 2016

Menjual Kulkas Lewat Kuping (Yuk, Dengerin Radio)



MENDENGAR, MELAHIRKAN KARAKTER 

Iklan radio pernah melegenda saat stasiun televisi swasta belum berkembang pesat seperti sekarang ini. Maka arktor dan artis radio (dubber) menjadi fenomena idola pendengar. Nama-nama besar lahir di radio seperti Mas Tono, Asdi, Luqman, Petrus, Yoko, Ivonne Rose hingga Ferry Fadli yang melegenda melalui cerita sandiwara radio kiasan heroik melalui karakter Bramakumbara. Mendengar radio, kita diajak berimajinasi dengan pikiran kita yang liar. Setiap orang memiliki kebebasan dalam menggambarkan atau menginterprestasikanakan apa yang ia dengar. Mendengar radio seperti membaca buku, kita bebas mengkhayalkan apa yang kita dengar atau kita baca. Tak heran banyak yang kecewa saat buku atau sandiwara radio dikembangkan menjadi sebuah film yang secara visual, mata kita tidak sinkron dengan benak khayalan kita. Dengan mendengar radio kita bisa membayangkan penyiar yang suaranya mendsah asoy, pastinya dia tinggi purih dan cantik, dengan badan ideal sesuai karakter yang kita bangun di benak sendiri,-meski mungkin saja saat ketemu kebalikannya. Dia tak seindah suaranya.' 

Tetapi itulah kekuatan radio. 

IKLAN di RADIO? 

Lalu bagaimana era sekarang industri(advertiser)memandang radio? Apakah radio sudah mati? Ataukah dia media yang masih memiliki kharisma dalam membranding productnya? Apakah cukup memenuhi syarat CPRP (Cost Per Rating points) layaknya skala paling mudah saat sebuah iklan mau ditempatkan di televisi? 

Setiap Stasiun Radio sesungguhnya memiliki pendengar yang lebih segmented. Secara kasat mata profile radio bisa dilihat dari program-program yang diputar. 

Mengkreate campaign di radio juga jauh lebih mudah dan relatif memiliki cost yang terjangkau. Bermain loose spot 60 detik, adlips yang disampaikan pendengarnya atau bahkan bisa mengcreate Brand Activations melalui off air dengan pendengar-pendengar yang fanatik. Jadi jangan heran kalo radiolah yang mampu melakukan aksi extreme seperti misalnya, jualan kulkas lewat kuping. Radio bisa menjadi media doktrin yang kuat. Penjejalan-penjejalan pesan yang halus dan mengena bisa dilakukan melalui media elektronik nan murah ini. 

LITE LISTENING, DEEP HEART

Radio adalah media yang ringan yang bisa didengar tanpa menggangu aktifitas. Saat santai, saat nyetir, saat membaca koran. Namun meski lite listening, semua menancap di dalam hati. Jangan heran teenagers Indonesia mulai hafal dengan Mas Darto's Five atau bahkan Odong-Odongnya Selamat Begi at Prambors. 

Juga Ganasnya Gen FM, atau dulu Salah Sambungnya Kemal Tije. Radio memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan pesan. Dia bergerak layaknya pasukan khusus dan langsung menembak mati benak Anda. 

#tulisan ini diminta salah seorang mahasiswi komunikasi. Semoga dia membaca. Dan saya berharap banyak praktisi menyempurnakan atau merevisi postingan ini. 

Semoga bermanfaat. 
Salam Mayoko Aiko Praktisi Iklan 

Kepala Sekolah Cendol (Cerita Nulis Diskusi Online)

0 komentar:

Posting Komentar