Our social:

Rabu, 02 Maret 2016

Menunggu Pak Beye Lewat



Jalur Transyogi Cibubur, merupakan salah satu jalur tersibuk di wilayah Cibubur. Jalur yang melayani lintas Tol Jagorawi-Cianjur itu menjadi sentra ekonomi yang tumbuh begitu cepat. Ruko-ruko dibangun sepanjang lintasan yang juga menjadi jalur Pak Beye pulang ke Cikeas setelah bertugas di Istana. 

Transyogi Cibubur menjadi sebuah kota mandiri. Berbagai penunjang kebutuhan berbaris di sini. Mulai dari rumah sakit, bank, restoran hingga bengkel-bengkel berderet sepanjang jalanan ini. Komplek-komplek perumahan elitpun menjamur di wilayah ini. Tak heran bila Jalur Transyogi Cibubur menjadi denyut nadi Pemda Bogor dan Bekasi. Ribuan mobil bergerak di jalur ini sepanjang hari. Jadi inget obrolan dengan Mbah Suro, pedagang mie ayam yang mangkal di Puri Gading, tempat tinggalku, katanya kalo suatu wilayah pingin maju jurusnya gampang. Bangun saja jalan raya. Begitu kata Mbah Suro. Tetapi, memang teori Mbah Suro ada betulnya. Di Transyogi Cibubur, bahkan tidak hanya pengusaha yang memiliki ruko yang bisa mendapatkan rizki. Bahkan di setiap puteran di Transyogi Cibubur merupakan lumbung uang buat pak polpek, alias polisi gopek (dulu polisi cepek, sekarang minta naik gaji menjadi polisi gopek, ga mau kalah sama buruh) dalam mencari uang. 

Kalau kita telusuri dari exit tol Cibubur hingga Kota Wisata ada sekitar 11 titik putaran yang kalau Pak Beye ga lagi lewat selalu dijaga sama Polisi Gopek ini. Seperti sore tadi saat Pak Beye lewat, saya berkesempatan ngobrol dengan Mas Polpek di putaran depan Rawon Setan, salah satu putaran yang super rame itu salah satu putaran menuju Hankam Raya dari arah Cileungsi dan sekitarnya. 

"Wah, penghasilan berkurang nih," saya membuka percakapan. Kali ini puteran itu milik Pak Polisi berseragam sebab orang nomer satu mau lewat. 

"Ya, begitu deh, Mas. Kalo Pak Beye lewat ya minggir dulu deh." 

"Paling kan hanya dua jam." Sahutku. 

"Dua jam itu ya lumayan mas. Kalo dua jam bisa ngelolosin 40 mobil kan rata-rata dapat 40 ribu." 

"Empat puluh ribu?" 

"Yah, kurang lebih..." 

Bila dirata-rata mereka berjaga dari jam 6.00 pagi hingga jam 21.00 malam, maka 15 jam bisnis putaran jalan ini berputar argonya,  tiap titik menghasilkan sekitar Rp.300.000,-, (Rp.40.000 x 7 + Rp. 20.000,-) bila dikalikan 11 titik putaran sekitar Rp.3.300.000,-/ hari. 

"Jadi penghasilanmu sebulan,  9 juta ya?" tanyaku sambil berhitung. 

"Ya kan dibagi-bagi juga, Mas. Rame-rame. Shift-shiftan juga." sahut Mas Polpek sambil menuju 'pos penjagaan' karena rombongan Pak Beye dengan sirinenya sudah berlalu. 

Ternyata, jalanan itu sumber uang yang berlimpah. Tak heran bila banyak orang ingin menguasai jalanan. Meski pengguna jalanan harus rela ngalah, sebab Polisi Gopek ini selalu 'membela yang bayar'. Pantes saja mereka jarang berdemo ya. Ternyata secara global penghasilan mereka jauh di atas UMR. Mau coba ganti profesi Masbro? Jadi Polisi Gopek? Jangan, ah! Sebab ini hanya lanturan saya dengan Pak Polpek sambil menunggu Pak Beye lewat.+++ 

0 komentar:

Posting Komentar